Down
syndrome (DS) merupakan suatu bentuk kelainan
kromosom yang paling sering terjadi. Menurut
penelitian, DS menimpa satu di antara 700
kelahiran hidup. Di Indonesia sendiri terdapat
300 ribu kasus DS. Normalnya, tubuh manusia
memiliki miliaran sel yang memiliki pusat
informasi genetik di kromosom.
Sebagian
besar sel tubuh manusia mengandung 23 pasang
kromosom (total 46 kromosom). Hanya sel
reproduksi, yaitu sperma dan ovum yang masing-masing
memiliki 23 kromosom tanpa pasangan. Dalam
kasus DS, kromosom nomor 21 jumlahnya tidak
sepasang seperti pada umumnya, melainkan
tiga. Bahasa medisnya, trisomi-21. Jumlah
kromosom yang tidak normal tersebut bisa
ditemukan di seluruh sel (pada 92 persen
kasus) atau di sebagian sel tubuh.
Akibat
jumlah kromosom 21 yang berlebihan tersebut,
terjadi guncangan sistem metabolisme di
sel yang berakibat munculnya DS. Dari hasil
penelitian, 88 persen kromosom 21 tambahan
tersebut berasal dari ibu, akibat kesalahan
pada proses pembentukan ovum. Delapan persen
lagi berasal dari ayah, dan dua persen akibat
penyimpangan pembelahan sel setelah pembuahan.
Dari
penelitian terbukti pula, DS yang diturunkan
dari orang tua hanya lima persen dari keseluruhan
kasus. Kesalahan penggandaan kromosom 21
tersebut juga bukan karena penyimpangan
perilaku orang tua ataupun pengaruh pencemaran
lingkungan.
Lagu
bertema
Down Syndrome
Cipt : Tito Sumarsono
D
I A
Marilah kita mulai peduli
Anak anak Down syndrome
Mereka juga seperti kita
Punya kesempatan
Janganlah kita membedakan
Karena kita satu pencipta
Dia dan kita sama sejajar
Untuk menjadi yang terbaik
Reff:
Dia juga dapat bermain
Dia juga dapat belajar
Dia juga teman kita semua
(Mari mulai peduli)
Dia juga sama dan kita
·
Karakteristik Khas.....
Dalam
beberapa kasus, terlihat bahwa umur wanita
terbukti berpengaruh besar terhadap munculnya
DS pada bayi yang dilahirkannya. Kemungkinan
wanita berumur 30 tahun melahirkan bayi
dengan DS adalah 1:1000. Sedangkan jika
usia kelahiran adalah 35 tahun, kemungkinannya
adalah 1:400. Hal ini menunjukkan. Angka
kemungkinan munculnya DS makin tinggi sesuai
usia ibu saat melahirkan.
Karena itu, disarankan agar ada pemeriksaan
prenatal pada ibu berumur lebih dari 35
tahun untuk memastikan apakah janin memiliki
kelainan atau tidak. Sebab, semakin dini
DS terdeteksi, maka semakin besar pula kesempatan
untuk memperbaiki keadaan sang penderita.
Untuk mendeteksi adanya DS secara dini
pada anak, sebenarnya bukan suatu hal yang
sulit. Kartena penderita DS punya karakteristik
fisik yang khas. Pada wajah, yang paling
khas adalah bentuk mata yang miring dan
tidak punya lipatan di kelopak. Selain itu,
hidung mereka cenderung lebih kecil dan
datar. Ini tak jarang diikuti dengan saluran
pernapasan yang kecil pula, sehingga mereka
sering kesulitan bernapas.
Seperti juga hidung, ukuran mulut mereka
pun seringkali lebih kecil dengan lidah
tebal dan pangkal mulut yang cenderung dangkal.
Di samping itu, otot mulut mereka juga kerap
lemah, sehingga menghambat kemampuan bicarai.
Pertumbuhan gigi geligi mereka pun lambat
dan tumbuh tak beraturan. Gigi yang berantakan
ini juga menyulitkan pertumbuhan gigi permanen.
Letak telinga mereka rendah dengan ukuran
kanal telinga yang kecil, sehingga mudah
terserang infeksi. Rambut mereka lemas,
tipis, dan jarang. Bentuk kepala mereka
juga cenderung peyang.
Di samping dari tampilan wajah, DS juga
dapat diamati dari anggota tubuh lain, seperti
tangan dan kaki. Tangan mereka lebih kecil
dan jari-jari yang pendek dan kelingking
yang bengkok. Bila pada kelingking normal
memiliki tiga ruas tulang. Maka pada penderita
DS, ruas kedua jari kelingking mereka kadang
tumbuh miring atau malah tidak ada sama
sekali.
Selain itu, di telapak tangan
mereka terdapat garis melintang yang disebut
simian crease. Garis tersebut juga terdapat
di kaki mereka, yaitu di antara telunjuk
dan ibu jari yang jaraknya cenderung lebih
jauh dari pada kaki orang normal. Keadaan
telunjuk dan ibu jari yang berjauhan itu
disebut juga sandal foot. Dengan diketahuinya
gejala fisik tersebut, diharapkan orang
tua, bidan atau dokter sudah dapat mendeteksi
adanya kemungkinan DS pada anak sehingga
DS bisa ditangani lebih dini.